Postingan

Membungkus Idealisme

Gambar
  Kubingkis idealismeku dalam plastik yang menyilaukan mata Demi sederet bangku-bangku baru Gelas-gelas yang bening dan masih kosong serta setumpuk kertas yang yang dibalut pembungkus berwarna-warni Kuikat segala amarah, dendam, serta sarkasme-satire yang tajam dengan tali plastik Berharap mereka tidak mengamuk dan mengambil alih tubuh ringkih ini Dialektika, romantika, aksi yang selalu menyelimuti kini kutanggalkan Kututup di lubang bawah tanah dan kutancapi sebatang tongkat serta bendera di atasnya Aku melihatmu amarah Aku memandangmu rasa dendam dan penderitaan Aku memelukmu segala hal yang tak terduga Aku, masih sama  Aku, masih sama Aku, masih sama Aku masih manusia, dengan cara yang berbeda   Purwokerto Selatan, Desember 2021.

Laut dan Langit

Gambar
  Dan rasakan angin yang berhembus Meniup asamu Dan dengarkan deru yang memecah hening Getarkan jiwamu Dan lihatlah samudera yang biru Legakan lelahnya hatimu   Laut dan langit Dan hal-hal yang tidak kita ungkapkan Laut dan langit Dan hal-hal yang tidak kita ungkapkan Biar meresap Melebur ke bumi Menumbuh dan berkembang   Menganti, Oktober 2021

Sore

Gambar
  Kukirimkan sepenggal kata padamu   di Rabu sore, tapi kutahu kau rindu pada dirimu saban hari, setiap saat, maka sore manapun takkan merubah apa-apa jika kita tak bersama   Kasihku, kembalilah ke Selatan, tempatmu biasa duduk dan menyindiri, agar aku bisa memandangi kembali ronamu dari dalam genangan air itu, meleburkan duka dan nestapa, serta berlarian bersama anak-anak raya   Kusiapkan tiga cangkir teh dan langit jingga di lembah gunung merah, sepasang untuk kita dan satu sisanya untuk siapa saja yang ingin abadi bersama, atau untuk siapa saja yang ingin mengabadikan kita.   Rumah Biru, Desember 2021.

Tuhan, Aku Tersesat

Gambar
       Buah hati penginderaan saya akhirnya berhasil mengalami prosesi dan dinamika pemikiran, hingga berakhir pada kelahirannya dengan bentuk sebuah buku kumpulan puisi. Pemilihan judul merupakan sebuah perenungan saya ketika bingung ingin menamai apa 'anak' pertama yang saya kandung sendiri ini. Beberapa saran dan diskusi dari rekan lintas latar belakang juga sudah terlaksanakan. Hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa "Dunia adalah tempat bagi orang-orang tersesat".        Orang-orang itu berusaha dan berjuang dalam mencari jalan di kehidupannya. Ada yang berjuang demi harta, berusaha untuk tahta, juga mengupayakan segenap usaha demi jalan hidup yang beraneka. Banyaknya jalan hidup yang ditempuh ini menjadikan orang-orang mempunyai cara pandang dan paradigma yang beragam pula.     Buku ini merupakan berisikan beberapa puisi dari blog coretansuta.blogspot.com yang pernah saya hapus. Selanjutnya puisi-puisi yang terhiumpun di note gawa...