aku tak ingin anakku menulis puisi yang aku inginkan, ia menulis cerita-cerita kesedihannya dan membaginya pada deru ombak di samudera, pada rimbun hutan-hutan, atau pada terjal puncak gunung-gunung aku tak ingin anakku menulis puisi aku lebih suka, ia menuliskan kisah-kisah kegembiraanya dan memberikannya pada pedagang-pedagang di pasar, anak-anak di depan toko roti, atau pada orang-orang dewasa yang sayu sepulang kerja aku tak ingin anakku menulis puisi syair-syair, lirik-lirik, jargon-jargon, dan kutipan tokoh yang terdengar naif menyebalkan aku lebih senang, ia mengemasinya melewati perjalanan panjang bersama langit yang dilewati doa dan cinta sampai akhirnya anakku menyadari: ada yang kembali hidup di dalamnya Kranji, 15/03/25
Kuberikan padamu, sepotong waktu Bukan hanya, karena kutau, kau tak butuh jam dinding emas, arloji berkilauan, yang kelak menggantung di sudut tembok, atau berdebu di pojokkan lemari kayu Kuberikan padamu, selembar kain Bukan hanya, karena kutau, kau tak ingin membiarkan sayap-sayapmu menjuntai mengelus bumi dan menggores luka di hati Kuberikan padamu, keabadian dari seikat bunga yang tak pernah layu Bukan hanya, karena kau tau, kau selalu abadi dalam dan luar diriku sendiri Kuberikan padamu, hanya, karena kau tau, aku hanya Kau berikan padaku, itu, karena kutau, kau itu Kuberikan padamu hanya dan kau berikan padaku itu Hingga tak lagi hanya dan tak lagi itu Yogyakarta, Agustus 2022
Gema lantunan Illahi sayup-sayup di antara orang-orang yang berlari Kubah berwarna warni Pakaian ibadah yang suci Membalut tubuh yang bermandikan dosa, nista, dan rasa benci Ramadhan berjalan perlahan Disambut gemah ripah loh kemewahan Dosa-doa berguguran Doa-dosa bertumbuhan Tegalwangi April, 2022.
Komentar
Posting Komentar